Rabu, 23 April 2014

Indeks Harga Konsumen Bulan Oktober 2013

September 2013, Kota Bekasi mengalami deflasi sebesar 1,20 persen.

Pada Bulan September 2013 secara umum Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Bekasi menunjukkan adanya penurunan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di Kota Bekasi, pada bulan September 2013 terjadi deflasi sebesar 1,20 persen setelah tiga bulan sebelumnya terjadi inflasi tinggi. Pada Agustus 2013 sebelumnya terjadi inflasi sebesar 1,73. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang sebesar 146,94 pada bulan Agustus 2013 yang lalu turun menjadi 145,17 pada bulan September 2013. Laju inflasi tahun kalender 2013 sebesar 9,44 persen dan laju inflasi “Year on Year” (September 2013 terhadap September 2012) sebesar 9,55 persen.
Di Kota Bekasi, pada bulan ini ketujuh kelompok pengeluaran dua kelompok mengalami deflasi dan lima kelompok mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi pada Kelompok Bahan Makanan deflasi sebesar 4,8 persen, diikuti Kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan deflasi sebesar 1,2 persen disebabkan karena penurunan tarif Angkutan Antar Kota (AKAP) setelah lebaran yang masih berimbas pada Bulan September.
Inflasi tertinggi terjadi pada Kelompok Sandang mengalami inflasi sebesar 1,60 persen, diikuti berturutturut Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar inflasi sebesar 1,59 persen, Kelompok Kesehatan inflasi sebesar 0,73 persen. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga inflasi sebesar 0,21 persen, dan Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau inflasi terendah sebesar 0,16 persen

Inflasi dan Andil Inflasi menurut Kelompok Pengeluaran,
1. Bahan Makanan
Kelompok Bahan Makanan mengalami deflasi sebesar 4,80 persen dan mempunyai andil inflasi terbesar sebesar 1,4551 persen. Pada kelompok ini, subkelompok bahan bumbu-bumbuan mengalami inflasi yang paling tinggi yaitu sebesar 30,32 persen. Komoditas yang memberikan andil deflasi tertinggi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,7621 persen.
Sebaliknya, subkelompok kacang-kacangan mengalami inflasi tertinggi yaitu sebesar 5,24 persen dengan andil inflasi sebesar 0,0922 persen. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar pada subkelompok ini adalah tempe sebesar 0,0617 persen.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok Makanan Jadi, Rokok dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 0,16 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,0279 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok makanan jadi sebesar 0,21 persen. Komoditas yang mempunyai andil inflasi pada sub kelompok ini adalah siomay sebesar 0,0106 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar mengalami inflasi sebesar 1,59 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,3198 persen. Pada kelompok ini, inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok biaya tempat tinggal yaitu sebesar 2,46 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,2696 persen. Komoditas yang mempunyai andil inflasi pada sub kelompok ini adalah sewa rumah dengan andil inflasi sebesar 0,2048 persen.

4. Sandang
Kelompok Sandang mengalami inflasi sebesar 1,60 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,0684 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok barang pribadi dan sandang lain yaitu sebesar 7,73 persen dengan andil inflasi sebesar 0,0584 persen. Komoditi penyebab inflasi yang tertinggi pada subkelompok ini adalah komoditi emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,0581.

5. Kesehatan
Kelompok Kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,73 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,0257 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok jasa kesehatan sebesar 1,43 persen dengan andil inflasi sebesar 0,0174 persen.
Komoditi penyebab inflasi yang tertinggi pada subkelompok ini adalah komoditi dokter umum dengan andil inflasi sebesar 0,017.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga
Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga mengalami inflasi sebesar 0,21 persen dan mempunyai andil inflasi sebesar 0,139 persen. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan sebesar 1,02 persen dengan andil inflasi sebesar 0,0074. Komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi pada sub kelompok ini adalah buku pelajaran SD sebesar 0,0032.

7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Kelompok Transport, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami deflasi sebesar 1,20 persen dan mempunyai andil deflasi sebesar 0,2046 persen. Sub kelompok transport mengalami deflasi sebesar 1,79 persen. Komoditas yang memberikan andil deflasi pada sub kelompok ini adalah angkutan antar kota sebesar 0,233 yang disebabkan karena penurunan tarif Angkutan Antar Kota (AKAP) setelah lebaran yang masih berimbas pada Bulan September.

PERBANDINGAN INFLASI TAHUNAN
Laju inflasi tahun kalender 2013 untuk Kota Bekasi sebesar 9,44 persen, sedangkan laju inflasi Year on Year (September 2013 terhadap September 2012) untuk Bekasi sebesar 9,55 persen.

PERBANDINGAN 7 KOTA DI JAWA BARAT
Tujuh kota pantauan di Jawa Barat, enam kota mengalami deflasi dan satu kota yaitu Kota Sukabumi mengalami Inflasi sebesar 0,04. Deflasi tertinggi dialami oleh Kota Bekasi sebesar 1,20 dengan IHK 145,17, diikuti Kota Bogor deflasi sebesar 0,71 dengan IHK 146,67. Kota Cirebon deflasi sebesar 0,56 dengan IHK 149,64, Kota Depok deflasi 0,56 dengan IHK 146,97, Kota Bandung deflasi 0,49 dengan IHK 138,78, dan Kota Tasikmalaya deflasi 0,04 dengan IHK 146,01.